Burung Saja Tuhan Pelihara

Highlight of my career (bahkan mungkin dalam hidup) was on Hello Sehat. Buat orang luar yang melihat, mungkin nggak ada yang istimewa. Tapi di sinilah, rasa "penuh" itu datang.

Di sini, dunia yang dulu pernah ada di mimpi kembali dekat. Tidak sama, tapi dekat. Dengan cara yang berbeda.

Di sini, akhirnya tahu seperti apa rasanya "berdaya", merasa bahwa "I'm good at this" walau tentu nggak sebagus itu. Mungkin, untuk pertama kali dalam hidup, tahu bahwa ternyata begini rasanya punya bayangan akan jadi apa hidup ke depannya dengan segudang bayangan dan rencana A, B, C, D, E.


Ini ternyata rasanya "hidup".

Begini ternyata rasanya punya ambisi, tapi tidak ambisius.

Begini rasanya, tahu mau apa dalam hidup.

Kerikil ada, tapi rasa senang karena menemukan dan berenang dalam mimpi yang dulu dipupuk bisa sedikit mengobati.


Sampai akhirnya 2023 datang.

Di tempat yang berbeda, dengan mimpi yang masih sama-sama dekat, tapi sekarang harus dikubur paksa. PHK, di usia 31. Bisa-bisanya episode ini ada?


Ternyata, diri ini tidak sebaik itu.

Pelan-pelan, sadar, bahwa apa yang dulu diyakini ternyata nggak semeyakinkan itu.


Lucunya, di masa inilah justru menemukan kepasrahan diri. Kepasrahan yang nggak pasrah-pasrah amat tentu saja.

Lucunya, di masa inilah, kesadaran soal waktu yang mulai muncul saat pandemi jadi semakin tebal.

Dan lebih lucunya, rasa syukur justru banyak ditemukan di masa ini, masa yang harusnya kata orang jadi masa paling gelap, in this economy.


Ternyata benar, burung saja Tuhan pelihara.

Entah butuh berapa kejadian lagi untuk terus ingat dan yakin.


Merasa nggak berguna di pekerjaan, tawaran Hello Sehat datang.

Muak dengan kondisi kantor, tawaran baru datang.

Stres tuntutan kerja, PHK datang.

Masa pengangguran, kerja lepas datang, bahkan melimpah.

Pekerjaan freelance melonggar, kesempatan mencoba hal baru datang.

Freelance menipis, hampir tidak ada (dan tentu sudah khawatir), tawaran pekerjaan sungguhan datang.

Tidak dipaksakan, tidak dikejar.


Tawaran kerja yang dikira nggak akan pernah datang dan didapat, mengingat usia, gap year, dan skill yang nggak mumpuni.

Tawaran kerja yang justru bertolak belakang dengan mimpi-mimpi, tapi bersinggungan.

Tawaran kerja yang sifatnya jangka pendek, yang dulu tidak pernah jadi pilihan.


Mungkin maksud-Nya,

Jalani saja apa yang di depan.

Ambil yang disediakan di depan.

Sisanya, apa kata nanti saja.


"Lagi disuruh buat jalanin aja mungkin," kata seseorang.


Usia baru, nggak lagi punya rencana muluk.

Jalani aja apa yang ada di depan.

Nggak punya kerjaan "stabil"? Ya sudah.

Nggak punya title tinggi? Ya sudah.

Terasa tertinggal dengan teman semasa kuliah atau SMA? Ya sudah.

Kontrak kerja mungkin nggak diperpanjang? Ya sudah.


Kita pikir lagi nanti harus apa.

Kita pikir lagi, ketika kondisinya sudah di depan.

Burung saja, Tuhan pelihara, kan?


(Walau sebenarnya tetap dipikirin sejak sekarang, sih 🤣)